Seekor ubur-ubur yang hidup di perairan Pulau Tasmania, Australia, sangat unik dengan nyala warna-warni pelangi, merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu berderet di bagian bawah tubuhnya...... #PERPUSTAKAAN ITJEN DKP# YANGON, KOMPAS.com - Ukuran tubuhnya tak seberapa hanya sekitar 1,7 centimeter. Namun, seekor ikan yang baru ditemukan di sungai di bagian utara Burma ini pantas disebut ikan drakula. Pasalnya,..... #PERPUSTAKAAN ITJEN DKP# JAKARTA, KAMIS - Ikan unik dari perairan Ambon dengan bentuk tubuh yang bulat seperti kodok dan motif lurik seperti batik di sekujur tubuhnya ditahbiskan sebagai spesies baru. Hasil pemeriksaan DNA..... #PERPUSTAKAAN ITJEN DKP# LAYAKNYA sebuah pesawat tempur, ikan aneh yang ditemukan di Samudera Pasifik ini memiliki kepala cembung yang transparan. Bagian pangkal mata dan organ dalam kepalanya terlihat jelas dari luar. #PERPUSTAKAAN ITJEN DKP# Di darat, kehidupan di Kutub Utara dan Kutub Selatan boleh berbeda, seperti beruang kutub hanya di utara dan penguin hanya di selatan. Namun di laut, kehidupan di kedua kutub Bumi bisa dibilang..... #PERPUSTAKAAN ITJEN DKP#
Merisaukan Sampah Laut
Selasa, 25 Agustus 2009
Terurainya sampah plastik di lautan menambah zat pencemar yang sebelumnya ada.
Sampah plastik di lautan sejak lama diyakini tak bisa membusuk dan terurai. Namun, keyakinan itu kemungkinan bergeser. Sebuah riset terbaru mengindikasikan, plastik bisa terurai lebih cepat di lautan. Kenyataan ini pun sama tak baiknya bagi kehidupan di laut.

Jadi, tak pula menjadi sebuah kabar gembira. Sebab, saat terurai, plastik melepaskan zat pencemar yang terkandung di dalamnya ke air laut. Hasil penelitian ini diungkapkan dalam sebuah pertemuan American Chemical Society di Washington, AS, pekan lalu.


Image
Sampah Laut " gbr. Illustrasi"
Katsuhiko Saido, ahli kimia dari Nihon University, Chiba, Jepang, yang juga memimpin riset tersebut, menyatakan, dalam kehidupan sehari-hari, plastik dianggap sesuatu yang stabil. ''Kami menemukan bahwa plastik di lautan terurai karena paparan hujan dan matahari,'' ungkapnya.


Tak hanya itu, kondisi lingkungan di laut juga membuat plastik terurai. Namun, Saido menjelaskan, terurainya sampah plastik di lautan ini menambah zat pencemar yang sebelumnya ada. Pada masa mendatang, hal itu akan terus berlangsung.


Menurut Saido, timnya menemukan bahwa saat plastik terurai, mereka melepas bahan kimia yang disebut bisphenol A (BPA) dan PS oligomers ke air. Penelitian sebelumnya pada sejumlah hewan menunjukkan, dalam kadar tertentu, paparan BPA bisa mengganggu sistem hormon.


Saido menambahkan, plastik biasanya tak terurai di dalam tubuh binatang setelah mereka menelannya. Bagaimanapun, bahan-bahan yang dilepaskan plastik saat terurai bisa diserap tubuh. Belum diketahui, adakah efek bagi hewan laut yang terpapar kedua bahan pencemar itu.


Setiap tahunnya, ribuan ton sampah plastik bermuara di laut. Sebagian sampah itu memang mengapung di pantai dan di lautan lepas, bahkan terbentuk suatu area besar yang merupakan gabungan dari berbagai sampah plastik.


Area itu disebut sebagai Great Pacific Garbage Patch atau Bentangan Raksasa Sampah Pasifik yang sebagian besar terdiri atas sampah plastik yang terletak di antara California dan Hawaii. Sampah itu diperkirakan mencapai dua kali luas negara bagian Texas.


Great Pacific Garbage Patch berada pada bagian tengah di utara Samudra Pasifik yang terletak pada 135-155 derajat Bujur Barat (BB) dan 35-42 derajat Lintang Utara. Karena ukuran dan kepadatannya, sampah plastik di area tersebut tak terlihat melalui satelit.


Sebanyak 80 persen sampah plastik yang masuk ke dalam area itu berasal dari daratan dan 20 persen lainnya merupakan sampah dari kapal-kapal yang berlayar di lautan. Ukuran sampah plastik juga bervariasi dari mulai mata kail plastik hingga sampah plastik berukuran besar.


Ombak membawa sampah dari pantai di Amerika Utara ke tengah lautan itu selama lima tahun. Namun, sampah dari pantai timur Asia hanya butuh satu tahun untuk sampai ke tempat pusat sampah plastik. Ini diyakini berdampak buruk bagi habitat di laut.


Bahkan, para pakar kelautan menyatakan bahwa sampah plastik memiliki potensi ancaman toksik bagi rantai makanan. Richard Thompson dari University of Plymouth menyatakan, plastik yang ada di laut mengakumulasi dan mengandung racun kimia.


''Bahan-bahan kimia tersebut akan terlepas saat organisme memakan plastik tersebut,'' jelas Thompson. Jika kemudian plastik sudah masuk dalam tubuh organisme laut tersebut, hal itu akan memberikan pengaruh pada organisme bersangkutan. 
ap/bbc/wulan tunjung palupi

Sumber : http://www.republika.co.id/koran/0/71245/Merisaukan_Sampah_Laut

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

© 2010 PERPUSTAKAAN ITJEN DKP
Gd. Mina Bahari III Lt. 4 - 6 Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat 10110 Telp 021 - 352 2310 / Fax 021 - 352 2310
Design : siwak_itk38@yahoo.com / sisiwak@gmail.com